EPISODE BARU

Eps 134 : SUAMIKU, MANTAN KEKASIH IBUKU
Rasti (21 tahun), diam-diam tanpa sepengetahuan ibunya hampir setengah tahun menjalin kasih dengan Suryadi (43 tahun), seorang duda tanpa anak.  Rasti, yang sedari kecil tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah karena ayahnya tlah bercerai dengan ibunya saat ia masih kecil, mendapatkan kasih sayang itu dari Suryadi. Rasti begitu mencintai Suryadi tanpa pernah mempedulikan usia dan statusnya. Rasti setuju saja saat Suryadi berniat meminangnya.

Oleh Rasti, Suryadi kemudian diajak ke rumahnya dengan maksud akan diperkenalkan pada ibunya, Murni (42 tahun). Murni, yang semula sangat antusias saat tahu kalau kekasih anaknya akan menemuinya, sangat kaget saat mengetahui kekasih anaknya. Begitu pun reaksi Suryadi saat melihat Murni. Ketika itu Murni mengamuk dan mengusir Suryadi, dan memintanya untuk tidak lagi menemui anaknya.

Saat itu Rasti bingung dan kecewa dengan sikap ibunya. Sepeninggalan Suryadi, Murni memberitahukan kalau Suryadi adalah mantan kekasihnya saat masih kuliah dulu, dan sempat melakukan pelecehan seksual pada dirinya. Karena itulah Murni saat itu memutuskan Suryadi. Rasti sangat terpukul mendengar penjelasan sang ibu. Murni pun meminta Rasti untuk tidak lagi berhubungan dengan Suryadi karena kelakuannya yang tidak baik.

Tak ingin menyakiti hati sang ibu, Rasti pun menuruti permintaan ibunya. Rasti terus menghindar setiapkali Suryadi berusaha menemuinya sepulang kerja. Namun, Rasti luluh juga dan akhirnya mau kemli bertemu dan mendengar penjelasan Suryadi. Seperti dicocok hidung, Rasti percaya begitu saja semua perkataan Suryadi yang bilang kalau sekarang ia telah berubah dan sungguh-sungguh mencintai Rasti.

Akhirnya, Rasti meminta ibunya supaya mau mengijinkannya menikah dengan Suryadi, Murni tetap keras hati. Bahkan belakangan Murni tidak mengijinkan Rasti keluar rumah dan menyuruhnya berhenti dari pekerjaannya lantaran takut kalau Rasti masih berhubungan dengan Suryadi. Rasti yang terlanjur cinta pada Suryadi, akhirnya memutuskan kabur dari rumah. Tanpa sepengetahuan dan seijin ibunya, Rasti menikah dengan Suryadi dan menetap di sebuah rumah kontrakan.

Setelah hampir setahun menikah dengan Suryadi akhirnya Rasti baru tahu semua sifat busuk suaminya. Tidak tahan menghadapi Suryadi yang suka main perempuan dan ringan tangan, Rasti meminta cerai. Suryadi juga sangat menggantungkan hidupnya dari penghasilan yang diperoleh Rasti bekerja. Karena tak tahan dengan perlakuan Suryadi dan Suryadi juga tidak mau menceraikannya, Rasti pun kabur dari rumah dan mengontrak sebuah rumah sederhana.

Setelah introspeksi, akhirnya Rasti menyadari langkah yang diambilnya adalah salah. Rasti pun teringat pada ibunya. Atas rekomendasi tetangga, Rasti pun menghubungi Tim Bukan Sinetron supaya mau menemaninya menemui ibunya sehingga ia bisa mendapatkan maaf dari sang ibu.

Eps 135 : AYAHKU TERGODA PERSELINGKUHAN

TAUFIK (48 tahun) adalah salah satu staff pimpinan di sebuah perusahaan swasta yang cukup sukses dan bonafid di Jakarta. Sehingga menjadi orang kepercayaan INDAH (45 tahun), pimpinan perusahaan itu.  Karena pekerjaan, hubungan Taufik dan Indah semakin dekat. Taufik juga mendapat banyak fasilitas pribadi dari Indah. Lama-kelamaan, hubungan kerja antara pimpinan dan bawahan itu berlanjut menjadi hubungan asmara.

Perubahan Taufik, membuat putri tunggalnya, YUKI (20 tahun ), mulai curiga.  Sikap Taufik terhadap istri dan anaknya memang tidak berubah. Namun Taufik kini menjadi sering pulang terlambat dan terlalu sering ke luar kota. TITIN (45 tahun), istri Taufik sama sekali tidak curiga karena Taufik selalu beralasan bahwa ia sering pergi dan pulang terlambat ke rumah karena urusan kantor. Berbeda dengan sang ibu, Yuki tidak mau percaya begitu saja dan berusaha membuktikan kecurigaannya. 

Setiapkali ada waktu luang, Yuki selalu mengintai gerak-gerik ayahnya tanpa sepengetahuan ibunya. Suatu hari, Yuki yang membuntuti ayahnya melihat bahwa Taufik sedang makan siang berdua dengan seorang wanita yang tak lain adalah Indah. 

Di rumah, Yuki sengaja menyindir ayahnya kalau ayahnya telah ‘berselingkuh’. Karena Taufik diam saja, Yuki lalu menanyakan pada ayahnya perihal siapa wanita yang makan siang bersamanya waktu itu. Taufik membenarkan kalau dia memang makan siang dengan bos wanitanya untuk membicarakan urusn kerja. Tapi Yuki tidak percaya begitu saja.

Penasaran dengan ayahnya, suatu hari Yuki memeriksa handphone ayahnya saat ayahnya itu sedang mandi. Yuki terkejut ketika menemukan foto mesra ayahnya dengan Indah, perempuan yang dilihatnya di sebuah rumah makan saat membuntuti. Yuki juga menemukan sms-sms mesra dari Indah untuk ayahnya. Yuki terpukul karena mendapati kenyataan ayahnya selingkuh, namun Yuki tidak memberitahukan hal tersebut pada ibunya. Yuki tidak ingin ibunya sedih dan hancur.

Rasa marah kemudian membuat Yuki menelpon Indah dan memakinya untuk tidak mengganggu rumah tangga orang tuanya. Indah yang kaget dengan telepon Yuki, jelas saja marah. Indah kemudian memberitahukan telpon Yuki pada Taufik.  Taufik kemudian memarahi Yuki habis-habisan karena telah lancang melabrak Indah. Tapi Yuki malah berbalik menyalahkan ayahnya.  Titin yang tidak mengetahui masalahnya kemudian menegur Taufik agar tidak memarahi Yuki. Titin menanyakan duduk perkaranya, tapi Taufiks malah pergi. Yuki juga bungkam saat ditanya ibunya.  Hal tersebut membuat Titin jadi bingung.

Tak ingin orangtunya bercerai, Yuki meminta bantuan tim BUKAN SINETRON untuk menyadarkan ayahnya. Juga meminta Indah menjauhi ayahnya.

Eps 136 : AKU DIHEMPASKAN ANAK MENANTU…

Semenjak ditinggal mati suaminya dua tahun lalu, Ibu Ningrum (55 thn) tinggal bersama anak bungsu lelakinya yang bernama Nanang (30 tahun) di sebuah rumah sederhana. Meski setiapharinya bekerja cukup sibuk sebagai guru privat di beberapa tempat, Nanang selalu meluangkan waktunya bagi sang bunda. Bahkan tak jarang Nanang mengorbankan waktunya, demi untuk urusan ibunya. Ibu Ningrum sangat terharu melihat sedemikian berbaktinya Nanang pada dirinya. Nanang juga rela tak cepat-cepat berumah tangga agar ia bisa lebih punya banyak waktu untuk menjaga ibunya.

Ibu Ningrum seringkali mengingatkan dan memberikan nasihat pada anaknya itu untuk segera berumah tangga. Apalagi Ibu Ningrum melihat penghasilan Nanang terbilang cukup untuk menghidupi calon istrinya. Namun, Nanang selalu berkelit dan mengatakan dirinya belum siap menikah.

Hingga pada suatu hari, secara tak terduga Nanang membawa seorang perempuan ke rumah dan mengenalkannya pada Ibu Ningrum. Retno (40 thn), wanita itu, adalah salah satu orangtua murid dimana Nanang bekerja sebagai guru privat. Pada sang ibu Nanang mengatakan bahwa Retno adalah seorang janda yang kini menjadi kekasihnya. Yang membuat Ibu Ningrum semakin terkejut, Nanang mengatakan bahwa ia dan Retno berencana untuk menikah. Rasa bahagia bercampur kuatir menyelimuti Ibu Ningrum. Bahagia karena akhirnya Nanang mendapat jodoh, dan kuatir Karena perbedaan usia Nanang dan Retno yang terpaut cukup jauh.

Namun Nanang meyakinkan ibunya bahwa tidak akan terjadi hal yang mengecewakan jika dirinya dan Retno menikah. Nining juga mengatakan pada sang ibu mertua, jika telah menikah nanti, ia berharap mertuanya dapat ikut bersamanya. Jika pun Ibu Ningrum tidak bersedia ikut, Nanang dan Retno berjanji akan memberikan Ibu Ningrum modal untuk berdagang. Melihat kebaikan dan rasa sayang terhadap dirinya, Ibu Ningrum pun akhirnya memberikan restu dan kekuatirannya pun terhapus.   

Tak lama setelah resmi menikah, sikap Nanang pada Ibu Ningrum mulai berubah. Nanang mulai jarang memberikan perhatian pada sang ibu. Modal berdagang atau pun tawaran untuk tinggal bersama pun menguap seperti angin. Ibu Ningrum sangat kecewa melihat perubahan sang anak. Yang membuat Ibu Ningrum terus bertanya pada dirinya sendiri adalah, mengapa anak lelakinya itu berubah sikap sedemikian besar padanya. Ibu Ningrum menduga, perubahan Nanang itu karena  istrinya.

Dalam sebuah kesempatan, Ibu Ningrum sempat menanyakan perubahan yang terjadi pada Nanang ke Nanang langsung. Bukannya memberikan penjelasan, Nanang justru marah besar mendengar pertanyaan ibunya. Nanang mengatakan bahwa ibunya tidak perlu lagi mencampuri urusan pribadinya, karena ia sudah dewasa. Perlakuan yang sama diterima Ibu Ningrum saat dirinya bertanya kepada Retno perihal perubahan sikap Nanang. Retno bahkan sampai tega mengusir Ibu Ningrum dari rumahnya karena Ibu Ningrum bertanya seolah-olah Retno-lah yang menjadi penyebab perubahan sikap Nanang itu. Hal serupa juga menimpa Ibu Ningrum saat dirinya menanyakan pemberian modal berdagang yang pernah dijanjikan Nanang dan Retno sebelum menikah.

Ketertutupan Nanang dan istrinya kembali terlihat setiapkali Ibu Ningrum hendak main ke rumah anaknya itu. Oleh penjaga rumah, Nanang dan Retno selalu dikatakan sedang tidak ada. Padahal, kedatangan Ibu Ningrum ke rumah Nanang hanya untuk menengok cucunya saja. Penolakan Nanang dan istrinya itu jelas membuat Ibu Ningrum kecewa dan sedih.

Selama menikah, hanya sekali Nanang pulang ke rumah ibunya. Itu terjadi dua tahun lalu saat Ibu Ningrum terbaring sakit. Sikap Nanang dan Retno saat itu pun sudah kelihatan kurang simpatik. Retno tak ingin berlama-lama menengok mertuanya karena katanya takut tertular sakit. Kalimat yang diucapkan Retno di depan Ibu Ningrum ini, jelas membuat hati Ibu Ningrum terluka.

Renggangnya hubungan dirinya dengan sang anak, tentu saja membuat Ibu Ningrum terus memikirkan. Apalagi, Ibu Ningrum tidak punya sanak saudara lagi. Mengingat Bulan Ramadhan sebentar lagi akan tiba, Ibu Ningrum pun meminta bantuan Tim BUKAN SINETRON untuk bisa menetralkan kembali hubungan dirinya dengan anak dan menantunya, sehingga jalinan silaturahminya dapat terpelihara baik. 

 

Eps 136 : AKU DIHEMPASKAN ANAK MENANTU…

Semenjak ditinggal mati suaminya dua tahun lalu, Ibu Ningrum (55 thn) tinggal bersama anak bungsu lelakinya yang bernama Nanang (30 tahun) di sebuah rumah sederhana. Meski setiapharinya bekerja cukup sibuk sebagai guru privat di beberapa tempat, Nanang selalu meluangkan waktunya bagi sang bunda. Bahkan tak jarang Nanang mengorbankan waktunya, demi untuk urusan ibunya. Ibu Ningrum sangat terharu melihat sedemikian berbaktinya Nanang pada dirinya. Nanang juga rela tak cepat-cepat berumah tangga agar ia bisa lebih punya banyak waktu untuk menjaga ibunya.

Ibu Ningrum seringkali mengingatkan dan memberikan nasihat pada anaknya itu untuk segera berumah tangga. Apalagi Ibu Ningrum melihat penghasilan Nanang terbilang cukup untuk menghidupi calon istrinya. Namun, Nanang selalu berkelit dan mengatakan dirinya belum siap menikah.

Hingga pada suatu hari, secara tak terduga Nanang membawa seorang perempuan ke rumah dan mengenalkannya pada Ibu Ningrum. Retno (40 thn), wanita itu, adalah salah satu orangtua murid dimana Nanang bekerja sebagai guru privat. Pada sang ibu Nanang mengatakan bahwa Retno adalah seorang janda yang kini menjadi kekasihnya. Yang membuat Ibu Ningrum semakin terkejut, Nanang mengatakan bahwa ia dan Retno berencana untuk menikah. Rasa bahagia bercampur kuatir menyelimuti Ibu Ningrum. Bahagia karena akhirnya Nanang mendapat jodoh, dan kuatir Karena perbedaan usia Nanang dan Retno yang terpaut cukup jauh.

Namun Nanang meyakinkan ibunya bahwa tidak akan terjadi hal yang mengecewakan jika dirinya dan Retno menikah. Nining juga mengatakan pada sang ibu mertua, jika telah menikah nanti, ia berharap mertuanya dapat ikut bersamanya. Jika pun Ibu Ningrum tidak bersedia ikut, Nanang dan Retno berjanji akan memberikan Ibu Ningrum modal untuk berdagang. Melihat kebaikan dan rasa sayang terhadap dirinya, Ibu Ningrum pun akhirnya memberikan restu dan kekuatirannya pun terhapus.   

Tak lama setelah resmi menikah, sikap Nanang pada Ibu Ningrum mulai berubah. Nanang mulai jarang memberikan perhatian pada sang ibu. Modal berdagang atau pun tawaran untuk tinggal bersama pun menguap seperti angin. Ibu Ningrum sangat kecewa melihat perubahan sang anak. Yang membuat Ibu Ningrum terus bertanya pada dirinya sendiri adalah, mengapa anak lelakinya itu berubah sikap sedemikian besar padanya. Ibu Ningrum menduga, perubahan Nanang itu karena  istrinya.

Dalam sebuah kesempatan, Ibu Ningrum sempat menanyakan perubahan yang terjadi pada Nanang ke Nanang langsung. Bukannya memberikan penjelasan, Nanang justru marah besar mendengar pertanyaan ibunya. Nanang mengatakan bahwa ibunya tidak perlu lagi mencampuri urusan pribadinya, karena ia sudah dewasa. Perlakuan yang sama diterima Ibu Ningrum saat dirinya bertanya kepada Retno perihal perubahan sikap Nanang. Retno bahkan sampai tega mengusir Ibu Ningrum dari rumahnya karena Ibu Ningrum bertanya seolah-olah Retno-lah yang menjadi penyebab perubahan sikap Nanang itu. Hal serupa juga menimpa Ibu Ningrum saat dirinya menanyakan pemberian modal berdagang yang pernah dijanjikan Nanang dan Retno sebelum menikah.

Ketertutupan Nanang dan istrinya kembali terlihat setiapkali Ibu Ningrum hendak main ke rumah anaknya itu. Oleh penjaga rumah, Nanang dan Retno selalu dikatakan sedang tidak ada. Padahal, kedatangan Ibu Ningrum ke rumah Nanang hanya untuk menengok cucunya saja. Penolakan Nanang dan istrinya itu jelas membuat Ibu Ningrum kecewa dan sedih.

Selama menikah, hanya sekali Nanang pulang ke rumah ibunya. Itu terjadi dua tahun lalu saat Ibu Ningrum terbaring sakit. Sikap Nanang dan Retno saat itu pun sudah kelihatan kurang simpatik. Retno tak ingin berlama-lama menengok mertuanya karena katanya takut tertular sakit. Kalimat yang diucapkan Retno di depan Ibu Ningrum ini, jelas membuat hati Ibu Ningrum terluka.

Renggangnya hubungan dirinya dengan sang anak, tentu saja membuat Ibu Ningrum terus memikirkan. Apalagi, Ibu Ningrum tidak punya sanak saudara lagi. Mengingat Bulan Ramadhan sebentar lagi akan tiba, Ibu Ningrum pun meminta bantuan Tim BUKAN SINETRON untuk bisa menetralkan kembali hubungan dirinya dengan anak dan menantunya, sehingga jalinan silaturahminya dapat terpelihara baik.

Eps 123: SUAMIKU DIBAWA KABUR SEPUPUKU

Desi (24 tahun), baru tiga bulan ini ia membina rumah tangga dengan Sandy (28 tahun). Sejak masih pacaran, bahkan sampai menikah pun Sandy dikenal sebagai lelaki yang pendiam. Sandy jarang sekali bicara kalau memang tidak perlu. Meskipun begitu Sandy adalah lelaki yang lembut dan sangat perhatian, sehingga Desi begitu mencintainya.

 Desi begitu mempercayai suaminya lantaran sepengetahuan dan sepenglihatannya, Sandy tidak pernah menunjukkan gelagat seperti lelaki genit pada umumnya. Sehabis pulang kerja pun Sandy selalu pulang tepat waktu.

Satu hari Desi ditelepon oleh perusahaan tempat dulunya bekerja. Desi diminta untuk kembali bekerja di sana. Sandy pun mengijinkan Desi untuk bekerja lagi daripada hanya berdiam diri di rumah. Sebagai manager marketing di sebuah restoran terkadang Desi mesti pulang larut malam. Sandy pun tidak pernah mengeluh akan hal tersebut. Desi merasa kalau suaminya benar-benar mendukung kariernya.

 Setiap pulang, tidak sekali dua kali Desi sering memergoki Luna (26 tahun), kakak sepupunya sedang berada di rumahnya. Desi tidak menaruh curiga sama sekali lantaran Luna pun sudah memiliki suami. Dan malah Desi merasa terbantu dengan kehadiran Luna yang sering mengirimkan makanan untuk suaminya selama ia tidak ada di rumah.

 Memasuki setengah tahun pernikahan mereka badai prahara mulai menimpa rumahtangga Desi, berawal dari bisik-bisik tetangga bahwa suaminya ada main dengan kakak sepupunya. Desi mengenyahkan jauh-jauh praduga tersebut, karena merasa hal ini tidak mungkin terjadi, hanya fitnah yang sengaja dihembuskan orang-orang yang tidak senang terhadap kebahagiaan rumahtangganya.

 Desi berpikir sangat tidak mungkin seorang kakak sepupu apalagi sudah mempunyai suami sendiri akan tega berkhianat pada adik sepupunya. Tapi tak pelak akhirnya Desi bergeming juga dengan isu-isu tersebut saat menghadapi realita bahwa suaminya mulai membanding-bandingkan dirinya dengan kakak sepupunya yang katanya lebih pintar mengurus rumah tangga. Sehingga Desi semakin malas kalau pulang ke rumah dan semakin sering menyibukkan diri dengan pekerjaannya.

Satu hari Desi pulang cepat, tanpa sengaja ia memergoki suaminya sedang bersama dengan Luna di dalam kamar. Desi dibakar cemburu, dan hampir saja marah jika saja Sandy tidak menenangkan dirinya. Meskipun curiga, namun Sandy berhasil menyakinkan Desi kalau ia dan Luna tidak melakukan hal yang macam-macam, katanya Luna hanya membantu memijatinya karena kurang enak badan.

 Tidak mau rumah tangganya berantakan, akhirnya Desi memutuskan untuk berhenti bekerja, sehingga ia bisa mengurus suaminya sekaligus memantaunya. Seperti biasa, Luna pun masih sering main ke rumah dan sikapnya pun tidak berubah. Dan Luna pun sering curhat perihal masalah keluarga dan suaminya, Adri (29 tahun).

 Suatu hari Desi yang baru pulang dari rumah orang tuanya mendapatkan rumahnya yang terkunci dari luar. Desi sudah menelpon handphone suaminya, tetapi tidak aktif. Desi mencoba mencari Luna untuk menanyakan keberadaan suaminya, tetapi setibanya di sana didapati Adri yang tampak sedih.

 Dari Adri akhirnya Desi tahu kalau ia telah memergoki Luna yang tidur dengan Sandy di rumahnya saat Desi menginap di rumah orang tuanya. Lantaran merasa dikhianati dan menyangka kalau anak yang dikandung Luna bukanlah anaknya melainkan anak Sandi, Adri pun mengusir Luna dari rumah. Dan kemungkinan besar saat ini Sandy bersama dengan Luna.

 Meskipun merasa terpukul dan sakit hati akibat pengkhianatan suaminya dan kakak sepupunya, Desi masih berusaha mencari mereka. Desi ingin meminta kepastian mengenai kelanjutan rumah tangganya pada Sandy. Desi sudah mencarinya ke mana-mana, ke rumah mertua dan tempat Sandy bekerja, tetapi Desi tidak juga bisa menemukan suaminya. Tak tahu harus mencari Sandy ke mana lagi, Desi pun memutuskan untuk meminta bantuan Tim Bukan Sinetron

Eps 124: KUSELINGKUHI SUAMI ANAKKU…  

Tragedi dan prahara adalah merupakan sebuah cobaan dan ujian yang diberikan Tuhan kepada hamba-Nya, agar hidup menjadi lebih bermakna dan bijaksana, dan Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan manusia, yakinlah!

 Aku (Susi, 26 th), adalah seorang seorang wanita yang merasa sangat berbahagia, dan saat itu aku bersyukur dilahirkan menjadi seorang wanita, karena bisa berbakti dan mendedikasikan seluruh hidupku kepada suamiku, Bang Buyung (30 tahun). Pada awal-awal perkawinan, kami lalui dengan penuh riang gembira, masa bulan madu kata orang-orang. Apalagi penghasilan suamiku cukuplah untuk ukuran kota kecil di tempatku tinggal.  

 Suamiku adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta dengan posisi yang cukup bagus. Dengan pekerjaan Bang Andi yang mapan tersebut, penghasilannya cukup memadai untuk menghidupi kami bertiga (aku dan ibuku). Karena usia perkawinan kami masih baru, maka kami memutuskan untuk tinggal menumpang di rumah ibuku dulu, apalagi ibuku yang sudah ditinggal mati bapak selama 4 tahun akan merasa kesepian kalau tiba-tiba dia hanya akan tinggal sendiri di rumah kami yang lumayan besar.

 Karena selama ini pun hanya aku dan ibuku yang tinggal berdua di rumah, abang-abangku semuanya telah menikah dan tinggal di rumah sendiri, karena mereka sudah hidup mapan, bersama keluarga mereka. Aku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kami berpikir, biarlah ibu jangan merasa kehilangan dan terlalu kesepian, dan butuh waktu untuk beradaptsi. Keputusan kami tersebut membuat ibu cukup senang dan bahagia.

 Keputusan kami untuk tinggal serumah dengan ibuku inilah yang menjadi awal petaka dan tragedi dalam kehidupan rumah tanggaku. Sebuah aib yang benar-benar tidak terpikirkan sebelumnya menimpa rumah tanggaku. Hal yang sangat memalukan sekaligus menjijikkan dan ini sangat sulit diterima akal sehat. Yaitu, affair antara suamiku dan ibu kandungku yang notabene adalah mertuanya sendiri.

 Aku nggak mau tahu siapa yang salah, ibuku atau Bang Buyung kah. Yang jelas mereka telah berselingkuh dan ini merupakan hal yang sangat tabu dan aib yang sangat memalukan kita sebagai orang timur. Yang lebih menyakitkan, kejadian ini terjadi pada saat-saat usia perkawinan kami masih seumur jagung, dimana pelayananku terhadap Bang Buyung masih sangat prima. Jadi tidak ada alasan rasanya kalau aku dikatakan kurang dalam hal pelayanan di atas ranjang. Mungkin ini hanya masalah iman dan moral-moral manusianya saja wallahualam.

 Kejadian memalukan tersebut terbongkar pada suatu pagi menjelang Shubuh. Saat itu aku terbangun karena ingin buang air kecil. Malam menjelang pagi itu udara terasa sangat dingin karena semalam hujan turun dengan derasnya. Aku dengan bermalas-malasan bangun juga. Saat itu aku belum sadar kalau Bang Buyung sudah tidak ada di tempat tidur, sampai saat kesadaranku pulih aku baru terkejut dan heran, kemana Bang Buyung? Tanyaku membatin.

 Oh, mungkin dia juga sedang ke kamar kecil, kebetulan. Soalnya aku agak takut juga ke kamar kecil malam-malam begini yang terletak agak di belakang dekat dapur dan melawati kamar ibuku. Biasanya kalau aku bangun tengah malam begini terpaksa juga membangunkan Bang Buyung untuk menemani aku ke kamar mandi, biasanya walaupun agak ngomel-ngomel maklum lah terganggu tidurnya karena mungkin capek dalam bekerja, tetapi dia tetap mau juga menemani aku.

 Karena berbekal keyakinan bahwa Bang Buyung telah duluan ada di kamar mandi maka aku bergegas beranjak untuk segera menyusulnya. Sambil berjalan pelan-pelan dan tanpa firasat apa-apa saat itu aku melawati kamar ibu, tapi aku heran kamar ibu kok pintunya agak terbuka gitu? Duh ibu, tidur kok bisa lupa nutup pintu kamar seh? Kataku membatin. Tapi, di kamar ibu kok ada suara-suara aneh yagn mencurigakan ya? Aku merasa semakin heran, dan tiba-tiba perasaanku merasa tidak enak, firasatku sudah lain. Tapi, ah….tidak mungkin! Tidak mungkin!

 Dengan perasaan yang semakin penasaran dan hati yang semakin galau tidak enak, aku terus mendekati kamar ibu dengan berjingkat-jingkat supaya tidak menimbulkan suara yang mencurigakan. Persis sampai di depan pintu kamar ibu yang terbuka sedikit pintunya, samar-samar di bawah temaram cahaya lampu kamar 5 watt yang berwarna merah aku melihat sepasang anak manusia yang sudah telanjang (maaf) sedang berpacu dengan nafsu.

 Dug, dug, andrenalinku mulai berpacu dengan kencang, otakku terasa beku, akal sehatku entah kemana, jantungku terasa copot. Tapi, rasa penasaranku mengalahkan segalanya. Dengan siapa ibuku tidur!? Jangan…Jangan…Duh, aku tidak berani membayangkan. Ternyata rasa penasaran yang memuncak membuat aku berani mendobrak pintu kamar ibu dengan keras. Brumm……!!!! Yang kurasa cukup mengejutkan penghuni kamar, yang sedang berpacu di puncak birahi tersebut.

 Masya Allah….!!! Ibu!…Bang Buyung!!??.. Duh.. Aku terpana, saat itu otakku tidak bisa bekerja, aku diam mematung. Pemandangan di depanku membuat aku shock berat. Tidak sedikit pun terlintas di pikiranku bahwa suamiku akan berselingkuh dengan ibu kandungku. Duniaku terasa gelap saat itu, aku menjadi beku, diam mematung, otakku sudah tidak bekerja lagi, dan aku pingsan. Gelap.

 Saat siuman aku telah berada di kamarku tepatnya di ranjang pengantinku. Di luar keadaan telah terang, berarti sudah pagi. Saat itu kulihat suamiku juga ada di dalam kamar, aku mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi, tapi kesadaranku belum pulih benar. Mungkin aku shock berat, saat ingatanku pelan-pelan mulai pulih dan aku sedikit ingat tentang apa yang terjadi, aku masih berpikir atau lebih tepat dikatakan mencoba berharap bahwa kejadian semalam tersebut adalah suatu mimpi buruk yang baru saja kualami. Tapi, OH…TIDAAAAK! Aku mulai menjerit, kesadaranku mulai pulih, aku mulai sadar tentang realitas kejadian semalam.

 Untung rumah kami agak berjauhan dengan tetangga-tetangga lainnya sehingga tidak mengundang kepanikan dan perhatian tetangga, saat mendengar jeritanku yang keras tadi. Suamiku nampaknya mulai panik juga, tapi dia berusaha menenangkanku, kulihat dia ragu mendekatiku. ”Mana Ibu..!! Tanyaku parau, dia menggeleng lemah. ”Mana Ibu…!! Tanyaku lagi agak menjerit. Dengan gugup Bang Buyung Menjawab, ”Ibu telah pergi tadi Shubuh, dia titip salam buat kamu, dia mohon maaf…Dia mohon ampun…” Katanya memelas.

 ”Kenapa kamu juga tidak pergi?” Sergahku ketus. ”Kalian memang bangsat…!” Nafasku mulai ngos-ngosan saking emosinya ”Binatang…!!!” Kataku memaki, pikiranku sudah tidak waras, aku benar-benar merasa malu, kecewa, jijik campur aduk. ”Abang minta maaf dek…Abang khilaf”. Katanya menghiba atau lebih tepatnya memelas. ”Pergi sana kau anjing..!! Tiada maaf bagimu… Bangsat!!” Pekikku. Dengan bergegas, kulihat suamiku beringsut keluar dengan tergopoh-gopoh. Saat tinggal sendiri sempat juga aku berpikir untuk bunuh diri, tetapi ini konyol, akal sehatku mulai bekerja. Kalau aku bunuh diri maka yang menang adalah syaitan, sedangkan aku kalah dunia dan akhirat. Artinya di dunia hancur di akhirat masuk neraka karena bunuh diri. Ah, tidak!

 Duniaku terasa telah hancur sehingga akhirnya saat itu juga aku memutuskan untuk pergi sejauh mungkin dari rumah laknat ini, aku bertekad akan pergi sejauh mungkin kemana saja kaki ini akan melangkah, untuk mengobati duka dan lara hatiku yang resah dan hancur ini. Saat itu aku cuma tinggal sendiri di rumah, Bang Buyung sudah berangkat sejak tadi tidak lama setelah aku siuman dan mengamuk, mungkin dia sengaja menghindariku dengan buru-buru pergi. Malu atau apa, entahlah! Aku sudah tidak perduli apa-apa tentang dia.

 Berbekal uang tabungan, dan perhiasan yang ada dan kutabung selama ini, dengan bekal ini aku yakin bisa menghidupi diriku untuk beberapa waktu sebelum mendapatkan kerja. Aku bergegas mempersiapkan barang-barangku, yang kuanggap penting seperti ijazah, beberapa potong pakaian kumasukkan ke dalam tas besar yang telah kupersiapkan sebelumnya, aku sengaja tidak membawa banyak-banyak karena tidak ingin kerepotan. Setelah selesai beres-beres, aku bergegas keluar dari rumah, ingin rasanya terbang secepatnya dari rumah laknat yang menjijikan tersebut, agar aku tidak mengingat-ingat lagi peristiwa yagn kusaksikan tadi Shubuh.

 Sebelum pergi kunci rumah kutitipkan sama tetangga terdekat, kepada tetanggaku kutunjukkan wajah yang biasa saja dan tidak menunjukkan kesedihan supaya tidak menimbulkan kecurigaan, meski sebenarnya di dalam aku sudah hancur, tapi biarlah aku saja yang tahu, aku tidak ingin dikasihani dan aku tidak ingin merepotkan orang lain.

 Saat ini tujuanku adalah kota Bandung. Karena di Bandung aku punya teman akrab waktu kami duduk di bangku SMA, mungkin untuk beberapa waktu aku akan menumpang di tempat dia, sambil mencari pekerjaan yang cocok buatku yang hanya tamatan SMA. Di kota ku aku sudah tidak bisa bertahan, duniaku sudah hancur di sini. Mudah-mudahan langkahku ini benar walau terasa sangat menyakitkan, karena saat ini aku merasa nasib sedang menderaku, mungkin ini adalah awal dari perjalanan hidupku yang panjang.

 Aku akan mencoba merubah nasib di negeri orang. ”Mudah-mudahan kisahku ini menjadi hikmah buat orang lain. Bahwa hidup tidak lah semulus yang kita bayangkan, cobaan pasti tetap ada, tetapi aku yakin Tuhan masih tetap sayang sama aku”.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: